Kolom

Menjaga Keikhlasan dalam Loyalitas

Segala puji bagi Allah Al-Haqq, tuhan Yang Maha Benar, yang sempurna dalam setiap kebenaran-Nya, yang mustahil bagi-Nya menipu dan salah. Shalawat serta salam kepada hamba-Nya yang setia, pembawa risalah terakhir, rasulullah Muhammad, serta para sahabat dan siapa yang meneladaninya hingga hari kiamat.

Loyalitas bukan sekadar bentuk kesetiaan lahiriah, tetapi juga sebuah persaksian yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Dalam Islam, persaksian atau syahadah merupakan inti dari iman yang tulus.

Firman Allah dalam Al-Qur’an: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, (demikian pula) para malaikat dan orang-orang berilmu yang menegakkan keadilan. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imran: 18)

Mereka yang bersyahadah kepada kebenaran, yakni mengikrarkan bahwa tiada ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, akan mendapatkan ganjaran atas kesetiaan mereka itu. Loyalitas dalam Islam bukan hanya tentang kesetiaan kepada manusia atau organisasi, tetapi lebih utama kepada kebenaran dan nilai-nilai Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Beliau bersabda: “Barang siapa yang menunjukkan kesetiaan kepada suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka.” (HR. Abu Dawud)

Menjaga keikhlasan dalam loyalitas berarti meluruskan niat agar kesetiaan kita bukan karena hawa nafsu, kepentingan dunia, atau tekanan sosial, melainkan karena Allah semata. Sebagaimana dalam ibadah, loyalitas yang benar adalah yang dijiwai oleh keikhlasan.

Allah berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Orang yang setia tanpa keikhlasan mudah tergelincir dalam kepentingan duniawi dan terjerumus dalam kesalahan. Kesetiaan yang tidak didasari niat ibadah kepada Allah berisiko menjadi kesetiaan buta yang dapat menjauhkan seseorang dari kebenaran. Sebaliknya, loyalitas yang dijaga dengan keikhlasan akan membawa keberkahan dan pertolongan Allah dalam setiap langkah hidup.

Dalam sejarah Islam, kita melihat contoh nyata dari para sahabat yang menjaga loyalitas mereka dengan penuh keikhlasan. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, misalnya, menunjukkan loyalitasnya kepada Rasulullah SAW dengan hati yang bersih dan niat yang tulus. Ia tidak mengharap keuntungan dunia, melainkan karena cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Keikhlasan dalam loyalitas juga berarti tetap teguh dalam kebenaran meskipun menghadapi ujian dan cobaan. Dalam banyak kasus, seseorang bisa tergoda untuk mengkhianati nilai-nilai Islam demi keuntungan duniawi, jabatan, atau pujian manusia. Namun, bagi seorang mukmin, loyalitas sejati adalah yang tetap berpegang pada prinsip Islam.

Firman Allah: “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207)

Di era modern ini, menjaga keikhlasan dalam loyalitas menjadi semakin penting. Banyak orang yang menunjukkan kesetiaan hanya demi kepentingan materi atau ketenaran. Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu mengingat bahwa semua perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Loyalitas kepada kebenaran tidak boleh luntur hanya karena tekanan atau godaan duniawi.

Sebagai seorang muslim, kita harus selalu mengoreksi niat dalam setiap bentuk kesetiaan yang kita tunjukkan. Apakah kita setia karena mencari ridha Allah, ataukah hanya karena dorongan hawa nafsu? Apakah loyalitas kita membawa kita lebih dekat kepada Allah, atau justru menjauhkan kita dari-Nya?

Menjaga keikhlasan dalam loyalitas juga berarti menghindari fanatisme yang membutakan. Kesetiaan kepada suatu kelompok atau individu tidak boleh sampai membuat kita menutup mata terhadap kebenaran. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa keadilan harus ditegakkan, bahkan jika itu menyangkut orang terdekat kita.

Beliau bersabda: “Tolonglah saudaramu, baik dia yang berbuat zalim maupun yang dizalimi.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami paham menolong orang yang dizalimi, tetapi bagaimana menolong orang yang berbuat zalim?” Beliau menjawab, “Cegahlah dia dari berbuat kezaliman.” (HR. Bukhari & Muslim)

Sehingga loyalitas yang berlandaskan keikhlasan akan menjadi sumber kekuatan bagi umat Islam. Ia akan menciptakan ikatan yang kokoh antara individu dan komunitas, serta membangun masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai keadilan dan kebaikan.

Dengan selalu menjaga niat dan mempersembahkan kesetiaan hanya kepada Allah dan kebenaran, kita akan mendapatkan keberkahan dalam hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin.

Artikel asli: https://darulfunun.id/learn/ibrah/20250325-menjaga-keikhlasan-dalam-loyalitas

Related Articles

Back to top button