Kolom

Loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya

Segala puji bagi Allah Al-Haqq, tuhan Yang Maha Benar, yang sempurna dalam setiap kebenaran-Nya, yang mustahil bagi-Nya menipu dan salah. Shalawat serta salam kepada hamba-Nya yang setia, pembawa risalah terakhir, rasulullah Muhammad, serta para sahabat dan siapa yang meneladaninya hingga hari kiamat.

Dalam Islam, kebenaran yang hakiki (al-haq) adalah segala sesuatu yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Allah menyampaikan kebenaran melalui berbagai cara, baik melalui penciptaan-Nya yang merupakan ayat-ayat kauniyah maupun melalui wahyu yang tertulis dalam Al-Qur’an dan hadits yang disebut sebagai ayat-ayat qauliyah. Kebenaran ini tidak mengandung kontradiksi, dan jika ada sesuatu yang tampaknya bertentangan, maka itu adalah keterbatasan akal manusia dalam memahami rahasia Ilahi.

Allah juga menciptakan akal agar manusia dapat berpikir dan memahami kebenaran. Dengan akal, manusia diberi kemampuan untuk menganalisis, menalar, dan menyimpulkan suatu kebenaran. Jika dalam pemahaman kita ada hal-hal yang tampak belum dapat dijelaskan, maka akal yang sehat akan memberikan ruang toleransi untuk menunggu datangnya penjelasan yang lebih dalam dan sempurna.

Allah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para Rasul sebagai pedoman hidup bagi umat manusia. Al-Qur’an, sebagai kitab terakhir, adalah sumber hikmah yang sempurna dan menjadi petunjuk bagi umat manusia.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-194)

Loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya berarti setia terhadap kebenaran yang disampaikan oleh Islam. Tidak ada loyalitas yang lebih tinggi daripada kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya, karena hanya dengan itu manusia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Di dalam Al-Quran Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul serta ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59)

Loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya bukan sekadar bentuk kepatuhan, tetapi juga jaminan kebahagiaan sejati. Manusia yang tunduk kepada Allah akan merasakan ketenangan, karena hidupnya memiliki arah yang jelas.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kekayaannya dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Namun, barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kemiskinan selalu di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. At-Tirmidzi)

Kesetiaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus dibuktikan dengan amal nyata. Seorang Muslim tidak cukup hanya dengan mengaku beriman, tetapi harus membuktikan dengan perbuatan yang sesuai dengan syariat Islam. Setiap aspek kehidupan, baik dalam beribadah, bermuamalah, maupun dalam hubungan sosial, harus didasarkan pada prinsip Islam yang benar.

Loyalitas kepada Allah berarti menolak segala bentuk kebatilan dan kesesatan. Tidak mungkin seseorang mengaku setia kepada Allah tetapi masih mendukung atau mengikuti jalan yang bertentangan dengan syariat Islam. Oleh karena itu, seorang Muslim harus cerdas dalam membedakan mana yang benar dan mana yang batil.

Keimanan yang kokoh tidak bisa diperoleh tanpa ilmu. Seorang Muslim harus terus belajar agar semakin memahami ajaran Islam dan dapat mempertahankan loyalitasnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Tanpa ilmu, seseorang akan mudah tergoda oleh pemikiran-pemikiran yang menyesatkan.

Setiap Muslim pasti akan diuji dalam kesetiaannya kepada Allah. Ada kalanya ujian datang dalam bentuk kesulitan hidup, tekanan sosial, atau godaan duniawi. Namun, orang yang benar-benar loyal kepada Allah akan tetap teguh dalam imannya dan tidak tergoda oleh rayuan dunia.

Loyalitas kepada Allah membutuhkan kesabaran, didalam ketaatan yang sedang dibina. Terkadang jalan kebenaran terasa berat, tetapi Allah menjanjikan pertolongan bagi mereka yang tetap setia.

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa musibah, ia bersabar dan itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)

Sebagai umat Islam, kita harus menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan. Beliau adalah manusia yang paling setia kepada Allah, dan kehidupannya adalah contoh nyata bagaimana seorang Muslim harus bersikap dalam menjalani kehidupan dunia.

Loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya adalah fondasi utama dalam keimanan sejati. Dengan memahami dan mengamalkan kebenaran yang bersumber dari wahyu Allah, seorang Muslim akan mendapatkan kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, marilah kita terus berpegang teguh pada ajaran Islam, menguatkan keimanan dengan ilmu, dan menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri teladan dalam kehidupan kita. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk selalu istiqamah dalam kebenaran. Aamiin.

Artikel asli: https://darulfunun.id/learn/ibrah/20250322-loyalitas-kepada-allah-dan-rasul-nya

Related Articles

Back to top button