Kolom

Merambah Jalan Yang Baru

green forest with felled trees

☕ 𝐵𝑒𝑦 𝐴𝑏𝑑𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ

Siapa yang pada akhirnya tidak kenal dengan seseorang yang dikenal dari sikap dan kata-kata yang penuh fitnah dan cacian. Walaupun kedudukan yang dipandang tinggi diantara masyarakat, anak orang besar, memiliki harta yang cukup. Sifatnya yang suka memfitnah, dan melakukan hasutan tidak mencerminkan apa yang sepatutnya keluar dari dirinya itu. Kesemua itu dilakukannya secara diam-diam supaya tidak terciprat muka sendiri. Orang-orang seperti ini membesar dengan egonya dan para ‘alim menyebutkan mereka ini banyak melakukan perkara fasiq (merusak) karena ego dan ambisinya, dibandingkan mendatangkan kebaikan.

Seseorang ini kemudian diabadikan oleh Allah dalam Al-Quran surat Al-Masad, sebagai pembawa kayu bakar. Ya, dialah yang sembunyi tangan adalah bibi dari pada nabi Muhammad saw. Lebih jauh lagi bersama suaminya Abu Lahab yang merupakan paman dari Muhammad, mereka menggugat amanah yang diberikan kepada nabi, dan mengatakan sepatutnya Abu Lahab lah yang lebih berhak untuk mendapatkan amanah tersebut. Abu Lahab ditutupi oleh ambisinya mengklaim dirinya adalah tokoh nasional, yang tertua dari anak-anak Abdul Muthalib, sehingga dialah yang berhak dibandingkan keponakannya Muhammad. Dengan segala upaya mereka melakukan perkara buruk kepada nabi Muhammad saw, dari mulai mengisolasinya dari keluarga besar Abdul Muthalib, bani Hasyim, bahkan bani Quraisy.

Fitnah dan huru hara yang ditimbulkan dengan menyebarkan hasutan-hasutan kepada nabi. Atas perilaku dan hobinya ini Allah mengabadikannya dalam Al-Quran sehingga yang tua dan muda, generesi ke generasi mengenalnya dan mengambil ibrah dari ambisinya. Hasutan-hasutan ini ibarat api yang sukar dipadamkan, dan yang mengobarkan apinya adalah sang pembawa kayu bakar, yang memfitnah dan menghasut dengan kebohongan demi kebohongan. Sehingga berapa banyak masyarakat dan keluarga besarnya yang terperdaya, fitnah berserakan dan masyarakat kehilangan berita yang dapat dipercaya. Sejarah sirah nabi kita lah yang mengatakan hal itu semua, hingga nabi dikucilkan dengan berbagai cara dan terors hingga puncaknya diungsikan dari masyarakatnya.

Kita tidak sedang bercerita panjang lebar bagaimana pelaku-pelaku ini mengugat amanah yang diberikan kepada nabi. Karena cerita para nabi pasti selalu penuh dengan cobaan dan penolakan dari masyarakat hingga orang terdekatnya. Tetapi tulisan ini ingin mencoba mengurai bagaimana sikap yang dicontohkan bai dalam merespon tindakan-tindakan buruk yang dilakukan. Momen ini terjadi disaat yang nabi sedang berjuang dengan amanahnya dalam dakwah awal yang sangat kritis, yakni diawal-awal membangun pondasi awal dakwah Islam.

Sebagian sejarahwan tidak mengulas secara detail momentum ini, akan tetapi disinilah awal mula ketokohan itu mulai, yang tidak menamakan bani Abdul Muthalib, bani Hasyim, bani Quraisy, penduduk Arab Mekkah, karena dengan pengucilan itu hanya tertinggal nama Muhammad bin Abdullah. Dengan memegang amanah yang diberikan kepadanya, dengan dibatasinya segala gerak dan gerik oleh orang-orang yang membencinya, menyebabkan momentum baru tersebarnya dakwah Islam kepada orang-orang di luar dari keluarga besar dan kaumnya. Dari hasutan ini kita bisa melihat babak baru dakwah Islam yang kemudian membesar di luar kota Mekkah, yakni di kota Madinah.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

(QS Al-Insyirah 5-6)

Ini adalah tentang mental tersebut, merambah jalan yang baru adalah tekad yang terus dilakukan dan yakin bahwa harapan itu akan selalu ada. Ibarat air yang mengalir, apapun halangan dan rintangan, selalu ada jalan untuk keluar dan terus mengalir. Merambah jalan yang baru adalah sebuah narasi yang bertitik tolak dari sebuah eksplorasi makna bahwa mereka yang diberi amanah memiliki tekad yang tidak dapat dibendung.

Setiap perjalanan akan menghadapi berbagai halangan dan rintangan. Namun, bukan hambatan itu sendiri yang menentukan nasib dari kita masing-masing, melainkan bagaimana cara merespons dan memanfaatkannya menjadi satu landasan untuk menapak tangga yang lebih tinggi. Di balik setiap kesulitan terdapat kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan berinovasi. Ini adalah prinsip dasar dalam merambah jalan yang baru, setiap satu halangan besar dia membuka satu jalan yang baru. Sehingga semua bergantung pada cara berfikir kita dan mental yang kuat untuk melakukan semua itu.

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

(QS. Ali Imran : 159)

Memelihara tekad dan menjaga amanah bukanlah tugas yang mudah. Ini membutuhkan komitmen untuk terus bergerak maju, bahkan ketika kondisi tampak tidak mendukung. Namun, inilah esensi dari keberanian: kemampuan untuk berdiri tegak dan melangkah maju dengan keyakinan, terlepas dari ketidakpastian yang ada. Manusia yang diberi amanah meyakini amanah yang diperolehnya adalah sesuatu hal yang berharga dan dipertanggung jawabkan kepada yang memberi amanah dan kepada Allah swt. Sedangkan manusia yang merebut amanah dengan cara yang tidak etis akan bingung kemana hendak dipertanggung jawabkan amanah tersebut, bisa jadi yang diklaim memberikannya pun tidak akan menerima klaimnya kelak di padang mahsyar.

Salah satu kunci untuk merambah jalan yang baru adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bervisi jauh kedepan. Dunia terus berubah, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut adalah aset yang sangat berharga. Ini berarti membuka diri terhadap ide-ide baru, perubahan rencana yang dinamis, siap untuk mengambil risiko besar yang diperhitungkan dan tetap fokus pada misi amanahnya.

Tekad kuat dan pemeliharaan amanah juga artinya mampu memberi nilai kontribusi yang terkecil sekalipun dan kolaborasi yang konstruktif. Melalui kerjasama dan saling mendukung, dapat mencapai lebih banyak tujuan. Jalan baru sering kali dibuka melalui sinergi antara berbagai pihak yang berbeda keahlian dan perspektif.

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya : Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; walaupun aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.”

(QS. Al-Kahfi : 60)

Dalam setiap usaha untuk merambah jalan yang baru, penting untuk menetapkan tujuan yang jelas. Tujuan ini bukan hanya sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai panduan yang membantu kita tetap fokus dan termotivasi mengambil momentum dalam langkah-langkah yang jauh. Amanah dan tujuan adalah bintang penunjuk arah dalam perjalanan yang penuh ketidakpastian.

Ambilah inisiatif dan sedikit proaktif dalam menciptakan kesempatan yang datang. Dengan sikap inisiatif, kita menjadi individu pembuat perubahan, bukan sekedar obyek penonton dalam cerita hidup kita sendiri. Menghadapi ketidakpastian penuh dengan risiko, sehingga akan menumbuhkan kebijaksanaan untuk mengetahui kapan harus bertahan dan kapan harus mengubah arah. Keputusan untuk berubah tidak selalu menandakan kegagalan, tetapi bisa jadi langkah strategis untuk mencapai tujuan yang lebih besar dan dicita-citakan.

Pentingnya ketahanan mental yang kuat tidak bisa diabaikan dalam merambah jalan yang baru. Ketahanan ini memberikan kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi tekanan dan kegagalan. Ini adalah modal besar yang memungkinkan seseorang dapat tetap optimis dan terus bergerak maju.

Setiap langkah dalam merambah jalan yang baru harus diiringi dengan refleksi diri. Refleksi ini memungkinkan untuk belajar dari pengalaman yang sudah dilalui, mengakui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dan terus meningkatkan diri. Ini adalah proses berkelanjutan yang menghantarkan seorang manusia pada pertumbuhan karakter dan pribadi yang tidak sentimental.

“Barang siapa yang bertekad melakukan suatu kebaikan dan belum mampu melaksanakannya maka Allah telah menulisnya sebagai satu kebaikan”

(HR. Bukhari & Muslim)

Merambah jalan yang baru adalah tentang mewujudkan harapan dan amanah. Harapan bahwa di balik setiap tantangan terdapat peluang dan jalan baru yang terbentang luas. Amanah yang dengan tekad yang kuat serta dilakukan dengan cara-cara yang etis dan baik, akan mendatangkan keberkahan dan kemudahan dari yang Maha Kuasa. Semoga Allah berikan kita hidayah dalam jalan yang diberkahinya.

Donasi Dukung Kita

Artikel asli: https://darulfunun.id/learn/ibrah/20240321-merambah-jalan-yang-baru

Related Articles

Back to top button