Kolom

Koruptor itu bernama Qarun

Kerusakan Besar Yang Dicatat dalam Sejarah

But seek the abode of the Hereafter in that which Allah hath given thee and neglect not thy portion of the world, and be thou kind even as Allah hath been kind to thee, and seek not corruption in the earth; lo! Allah loveth not corrupters, (Al-Qasas 27 : 77)

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-Qasas 27 : 77)

Dua terjemah ini (bahasa Inggris dan bahasa Indonesia) menjadi penting untuk kita pahami bagaimana istilah korupsi yang diserap dari bahasa Inggris digunakan dalam meterjemahkan atau menafsirkan kata di dalam Al-Fasaq Al-Quran sebagai kerusakan.

Jika kita bertemu dengan Yahudi mereka akan merepek bercerita mengatakan nasib mereka yang kurang baik di dunia, didzalimi sejak masa Firaun, padahal masa itu mereka termasuk ramai orang beriman dan alim. Mereka tidak sebut kalau dikalangan mereka ada yang berbuat kerusakan dan mendzalimi bangsa mereka sendiri. Salah satu yang namanya diabadikan dalam Al-Quran adalah Qarun.

Sampai saat ini kita pun melihat bagaimana cerita-cerita sedih menjadi bahasan yang menjadi pokok dari pembicaraan, dan kemudian menjadi legitimasi dalam pembenaran yang mereka lakukan. Kita belum lagi bicara tentang hukum dan normatif atau budaya. Mari kita bicara tentang apa yang diperbuat Qarun sehingga dikatakan berbuat kerusakan yang besar yang menghancurkan kaumnya yakni Yahudi.

Qarun berkata dia kaya karena ilmunya. Hal ini dibantah oleh Allah dalam Al-Quran dalam rangkaian surat diatas, bahwa sudah banyak kaum yang lebih hebat dibinasakan, dan mereka lebih banyak mengumpulkan harta. Qarun ini juga disebutkan suka pamer kemudian menginspirasi dan memanasi orang lain untuk berbuat sepertinya, bahasa kitanya sekarang belagu atau berlagak.

Al-Quran mencatat kesalahan besar Qarun adalah berbuat kerusakan yang nyata, yang mungkin dari persepsinya bukan betul-betul kerusakan atau hanya sedikit. Bayangkan dari banyak sifat bani Israel yang sering disebut diantaranya suka cari celah keringanan, ada yang Allah sebutkan bahwa ada yang lebih parah dari sifat-sifat itu semua, dan Allah hukum Qarun supaya hal itu “berpandai-pandai” Qarun tidak menjadi pembenaran. Apa yang Qarun lakukan sebenarnya?

Al-Quran juga mencatat Qarun adalah bagian dari kaum nabi Musa. Ya walaupun Qarun PNS nya firaun, Al-Quran memberikan klarifikasi walau dia PNS Qarun adalah bagian dari bani Israel. Pastinya ada maksud kenapa disebutkan bahwa kaya nya Qarun ini dijadikan isu oleh Allah (tidak wajar). Kita bisa bayangkan bangsanya saat itu tengah miskin dan didzalimi. Kemudian Qarun berkata ya saya kaya karena saya pandai. Apalah kepandaian Qarun ini hingga Al-Quran menuliskan banyak lagi orang yang lebih hebat dari Qarun, dan kenapa kerusakan yang diperbuat Qarun sangat fatal hingga perlu menjadi contoh bagi manusia hingga akhir zaman.

Qarun dihukum bukan karena nabi Musa berdoa untuk diberi hukuman, ataupun kaumnya berdoa buruk kepadanya. Orang-orang alim dan shalih dari bani Israel justru mengingatkan “jadilah orang beriman, beramal shalih dan sabar”, untuk mengcounter demam jangan ikutin tuh si Qarun, ada cara lain menjadi kaya, yakni bersabar.

Kira-kira cerita Qarun diatas serupa dengan banyaknya cerita yang datang kepada kita tentang bagaimana menjadi kaya karena “berpandai-pandai” seperti Qarun kemudian sombong selangit. Allah benamkan dia kedalam bumi, walaupun pada saat itu banyak orang bercita-cita mengikut jejak Qarun, walaupun saat itu tidak banyak orang berdoa karena didzalimi olehnya.

Dan sifat Qarun saat itu hanya kecil menurutnya, yakni berbuat kerusakan (fasad), yang sebagian kita pun melihatnya sebagai “berpandai-pandai” dan hanya berakibat kecil. Dalam bahasa kekinian yang dilakukan oleh Qarun kita kenal dengan istilah korupsi. Al-Quran menyebutkan kerusakan Qarun mengenai harta yang dia miliki, dan memberikan kerusakan yang nyata di dalam masyarakat. Dan kerusakan itu masih kita akan jumpai ketika dibahas dalam kisah nabi Musa berikutnya bagaimana kaumnya seolah-olah tidak bisa diatur dan tidak bisa mengikuti aturan, sedikit kesempatan menghasilkan kerusakan dimana-mana.

Kisah Qarun adalah gambaran nyata bagaimana kerusakan non-fisik adalah isu serius yang dibahas oleh Allah. Kerusakan yang merusak sendi-sendi keteraturan dalam masyarakat, dan semua itu diakibatkan oleh korupsi. Itulah harta Qarun yang dibenamkan oleh Allah, harta Korupsi yang jumlahnya sangat besar. Semoga kita dijauhkan mencari harta dengan “berpandai-pandai” kemudian sombong ini hasil kerja keras (kerja cerdas) seperti Qarun.

Wallahu’alam

Abdullah A Afifi

Staf Analis Kebijakan dan Layanan Publik The IDRIS Institute | Alumni Insan Cendekia Angkatan ke-5 (IC517) | Mantan Ketua Presidium Ikatan Alumni Insan Cendekia (IAIC) | Mantan Ketua Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR-UK) | Muhammadiyah Ciputat, Inggris Raya, Payakumbuh Limapuluhkota | Fokus kepada Wakaf, Kebijakan Pendidikan, Pengembangan SDM dan Ekonomi Regional | Pondok Pesantren Modern Perguruan Darulfunun

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button