Inspirasi

Buya Ayahku: Pendahuluan

Alhamdulillah, akhirnya setelah memakan waktu beberapa purnama saya membulatkan tekad untuk menulis beberapa catatan tentang ayah saya sendiri, yakni Buya Dr Afifi Fauzi Abbas MA. Menulis catatan riwayat hidup seseorang bukanlah pekerjaan mudah, apalagi jika tokoh tersebut masih terkait saudara apalagi ayah, tentu obyektifitas sangat perlu dijaga, supaya hikmah dari apa yang disampaikan tidaklah tertutupi dari perkara yang berlebih-lebihan. Buya Afifi Fauzi Abbas adalah seorang manusia yang tidak lepas dari khilaf, walaupun begitu atas dorongan dari banyak pihak, kerabat, keluarga dan juga kolega beliau, perjalanan hidup beliau dirasa perlu untuk dicatatkan, supaya menjadi pelajaran dan ibrah bagi generasi muda, khususnya anak kemanakan dan cucu-cucu beliau.

Perjalanan hidup beliau berawal dari satu kampung kecil yang pada tahun 1950 an sangat tersohor dikarenakan adanya Perguruan Islam Modern bernama Perguruan Darulfunun. Beliau adalah pemegang amanah nazir wakaf Darulfunun yang diikrar wakafkan oleh kakek beliau Tuan Syekh Abbas Abdullah. Perguruan di kampung kecil itu juga sempat menjadi basis Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), dimana Syafruddin Prawiranegara menjadi pimpinan tertingginya, sewaktu Soekarno dan Hatta di tahan oleh Belanda untuk mematikan pergerakan Republik yang belum baligh lagi umurnya. Yang pada saat amanah tersebut diserahkan kembali, Syafruddin dijemput oleh Leimena ke kampung tersebut.

Menceritakan beliau Buya Dr Afifi Fauzi Abbas tak puas rasanya tanpa menceritakan ayah dan kakek beliau, jika memungkinkan catatan yang serupa akan ditambahkan untuk menceritakan pendahulu beliau Syekh Abdullah, Syekh Abbas Abdullah, Buya H Fauzi Abbas Lc BA, juga sedikit cerita tentang Darulfunun. Menceritakan tokoh-tokoh ini saya perlu hati-hati, memisahkan cerita mitos, cerita-cerita berlebihan, supaya kita dapat melihat bagaimana prinsip-prinsip dan cara pandang beliau-beliau ini adalah cerita tentang Darulfunun itu sendiri. Merekalah Darulfunun itu, yang setiap kali kita berkaca pada diri beliau-beliau ini, kita jumpai orang alim yang tawadhu seperti yang dikatakan oleh HAMKA. Beliau-beliau ini tidak segan berjalan berlawanan arus atau sekedar diam hanya untuk menjaga agama dari keadaan yang fobia ataupun berlebih-lebihan (ghuluw).

DAFTAR ISI:

  • Buya Ayahku: Pendahuluan

Syekh Abdullah sendiri adalah generasi terakhir dari kaum Paderi yang berbasis di daerah luhak bungsu, Limapuluh Kota. Perjalanan hidup beliau bersamaan dengan zamannya bagaimana alim ulama menyiapkan satu babak baru dalam perkembangan keagamaan setelah masa Paderi selesai. Hasil dari generasi Syekh Abdullah adalah seperti yang kita lihat satu babak baru yang disebut oleh Dr Taufik Abdullah sebagai “The Kaum Muda Movement” dengan Syekh Abbas Abdullah dengan Sumatera Thawalibnya yang kemudian karena tidak setuju dalam politik yang agresif merubah nama perguruannya menjadi Darulfunun.

Sumatera Thawalib sendiri menjadi satu babak baru dalam pendidikan Islam modern, dimana perubahan menuju sistem kelas yang berkurikulum dan sistematis. Satu kemajuan yang besar adalah ketika Syekh Abbas Abdullah memperkenalkan pelajaran umum dan sains dalam kurikulum Madrasahnya di tahun 1930an, yang menjadikannya sebagai pelopor integrasi pendidikan Islam modern dengan beliau sendiri pengajarnya. Pelajaran umum sendiri baru bisa diterima secara luas pada tahun 1950an dalam pendidikan islam. Distorsi dan jarak antara ini masih kita lihat di generasi Buya H Fauzi Abbas dan Buya Afifi Fauzi Abbas. Baru setelah tahun 2000an, dan perlahan tidak berjarak sejak MAN Insan Cendekia yang dirintis oleh BJ Habibie maju sebagai icon pendidikan islam nasional yang moderat di Indonesia.

Buya H Fauzi Abbas sendiri adalah salah satu tokoh pendidikan juga aktifis Muhammadiyah di Payakumbuh Limapuluh Kota, beliau adalah Dekan Fakultas Tarbiyah AIN Payakumbuh yang kemudian disatukan di Padang membentuk UIN Imam Bonjol di Padang. Karena amanah Darulfunun beliau memutuskan bertahan di Payakumbuh, kemudian ketika perintisan Pendidikan Islam (Pendis) di Kementerian Agama dirintis oleh Dr Mahmud Yunus, yang merupakan koleganya, Buya H Fauzi Abbas mengajukan Darulfunun sebagai salah satu sekolah pelopor percontohan untuk menjadi salah satu Madrasah AIN pertama di Sumatera Barat dibawah Kementerian Agama, yang saat ini bernama MAN 1 Limapuluh Kota. Dirjen Pendidikan Islam ini yang kemudian berkembang dan menjadi payung dari pengembangan Pendidikan Islam Nasional di Indonesia.

Cerita tentang Buya Afifi Fauzi Abbas dimata umum tidak terlepas dari aktifitasnya sebagai tokoh muda Muhammadiyah, bersama-sama dengan kawan-kawan seangkatannya yang lain seperti Dr Anwar Abbas, Dr Faturrahman Jamil, Dr Din Syamsuddin, Dr Azyumardi Azra, dsb. Dari segi pemikiran sebetulnya seperti yang sudah disampaikan diatas, bahwa memang cara pandang Darulfunun yang diwarisi dari orang tuanya yang dominan, tentang Islam inklusif, moderat (washatiyah), tidak fobia terhadap kemajuan, praktis dan solutif serta tidak terjerumus dalam birokrasi yang kompleks, walaupun begitu beliau sangat tertib dan prinsip. Salah satu tokoh yang mematangkan cara pandang beliau adalah gurunya Dr Harun Nasution yang tidak lain adalah kawan dekat dari ayahnya Buya H Fauzi Abbas sewaktu di Mesir, yang bersama-sama pernah menjadi Staf Pegawai KBRI Mesir dan Belgia.

Beliau adalah akademisi dan organisatoris sejati, seperti yang diungkap oleh kolega beliau di UHAMKA. Selain sebagai seorang ahli fikih, ahli falak dan terlibat dalam dewan fatwa Majlis Ulama Indonesia dan Majlis Tarjih Muhammadiyah beliau juga adalah seorang organisatoris dan penggerak pembangunan. Di akhir hidupnya beliau masih berpartisipasi dalam pembangunan-pembangunan lembaga pendidikan seperti Perguruan Darulfunun, PPM Al-Kautsar Muhammadiyah Sarilamak, SD Full Day Muhammadiyah, dsb, yang beliau tidak segan untuk turun tangan sendiri untuk melakukan penghematan biaya.

Semoga apa yang saya tuliskan tidak berlebihan, dan semoga menjadi pengingat juga jariyah atas ilmu-ilmu yang telah beliau sampaikan kepada saya khususnya, anak kemenakan dan juga murid-muridnya pada umumnya. Semoga beliau ridha, dan semoga kita yang masih hidup bisa mengambil pelajaran berharga dari perjuangan beliau yang tidak kenal putus asa dan ikhlas mengharap ridha Allah. Dan saya ucapkan terimakasih kepada seluruh kerabat dan kolega yang membantu pengkebumiaan beliau. Semoga Allah limpahkan rahmat dan ampunannya kepada beliau.

Kuala Lumpur, Maret 2022
Pengarang

Abdullah A Afifi

Staf Analis Kebijakan dan Layanan Publik The IDRIS Institute | Alumni Insan Cendekia Angkatan ke-5 (IC517) | Mantan Ketua Presidium Ikatan Alumni Insan Cendekia (IAIC) | Mantan Ketua Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR-UK) | Muhammadiyah Ciputat, Inggris Raya, Payakumbuh Limapuluhkota | Fokus kepada Wakaf, Kebijakan Pendidikan, Pengembangan SDM dan Ekonomi Regional | Pondok Pesantren Modern Perguruan Darulfunun

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button