Kolom

Sembako, Vaksin dan Jumlah Yang Tertinggal Terlalu Jauh

Sembilan jumlah bahan makanan pokok yang dijaga negara, dari sembilan itu ternyata akan dikecilkan lagi, sembilan bahan makanan pokok yang bukan dimakan orang kaya. Sedikit absurb logikanya. Karena Indonesia baru menjadi negara berkembang, kita coba lihat contoh dari negara maju. Di negara lain, tidak usah jauh-jauh seperti Malaysia, bahan makanan pokok yang di monitor negara lebih dari 20 macam. Tidak dikecilkan pula atau dikecualikan pula tidak berlaku untuk makanan mewah.

Setiap regulasi dia akan berimplikasi pada biaya pengawasan di lapangan, dan ini bukannya berhemat justru menjadi penyakit baru. Jangan sampai kita lihat ada teman kita pegawai pajak yang tiba-tiba gemuk karena disuap wagyu. Disini kita harus berhati-hati.

Begitu juga vaksin, masih ingat ada artis-artis kita yang dirawat di Singapura ataupun Rumah Sakit besar karena satu virus, yakni radang selaput otak. Vaksin meningitis ini sudah diwajibkan untuk haji sebelum masuk asrama haji. Begitu juga diwajibkan untuk pengajuan visa Eropa untuk tinggal dalam jangka yang panjang.

Ilustrasi dimana negara yang sudah vaksinasi nasional 50% populasi lebih mengadakan kegiatan secara terbuka. Tertinggalnya banyak negara berkembang di Asia dan Afrika selain karena terbatasnya stok vaksin dari produsen, juga dikarenakan penolakan dari warganya.

Di negara maju, tidak usah jauh-jauh, ada kurang lebih 9 vaksin wajib untuk anak-anak. Mungkin jika pandemi berakhir, Covid-19 diprediksi akan menjadi vaksin ke 10. Di Indonesia, antara 3-5 vaksin yang wajib. Teman-teman yang sekolah membawa balita ke Inggris pasti mengalami hal yang sama. Klinik anak ketika kontrol mereka akan cek apakah semua vaksin ini sudah diberi ke anak, jika belum mereka akan suntikkan, tentu dengan persetujuan orang tua.

Menariknya di negara 4 musim ada satu lagi penyakit musiman yang sangat mengganggu, yakni flu pergantian musim dingin dan flu polen karena musim semi. Polen ini kurang lebih serbuk dari rumput-rumput liar. Untuk beberapa orang polen ini menimbulkan alergi yang bisa berakibat fatal. Biasanya klinik akan menyediakan suntikan vaksin ringan (jab flu) gratis untuk salah satu orang tua yang menjadi tulang punggung keluarga. Fatal dalam hal ini kurang lebih setiap 5 menit ada ambulan yang lewat mengurus pertolongan pertama dilingkungan kita.

Sekarang disaat demam takut vaksin, tampaknya kita harus introspeksi dan kontempelasi. Apakah kita tertinggal terlalu jauh? Kita juga tidak bisa berharap sejauh negara-negara maju itu, tapi kurang lebih jangan sampai haji tahun depan bermasalah kembali karena kita takut vaksin. Akhirnya kelalaian kita sendiri yang menjadikan kita terbelakang dan ditinggal orang.

Abdullah A Afifi

Staf Analis Kebijakan dan Layanan Publik The IDRIS Institute | Alumni Insan Cendekia Angkatan ke-5 (IC517) | Mantan Ketua Presidium Ikatan Alumni Insan Cendekia (IAIC) | Mantan Ketua Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR-UK) | Muhammadiyah Ciputat, Inggris Raya, Payakumbuh Limapuluhkota | Fokus kepada Wakaf, Kebijakan Pendidikan, Pengembangan SDM dan Ekonomi Regional | Pondok Pesantren Modern Perguruan Darulfunun

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button