Kolom

Ramadhan (20): Insan yang Berfikir

Bismillahirrahmanirrahim,

Manusia merupakan makhluk individu yang memiliki akal budi juga hati nurani. Dua hal ini adalah anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah SWT, yang membedakan mereka dari makhluk lain di alam semesta. Akal budi yang telah dikaruniakan kepada manusia menjadi sarana utama untuk memahami, merenung, dan mengevaluasi segala hal yang ada di dunia. Melalui akal ini, manusia diberi kesempatan untuk mengenal Allah, memahami hikmah di balik ciptaan-Nya, serta menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan agama Islam.

Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berfikir dan merenung tentang penciptaan alam semesta, serta memahami hikmah dan kebijaksanaan Allah SWT di balik setiap peristiwa. Dalam Al-Qur’an, Allah berulang kali menyeru umat manusia untuk merenung dan menggunakan akal budi dalam memahami ayat-ayat-Nya.

Sebagai makhluk yang dikarunia akal, manusia dituntut untuk menggunakannya secara bijaksana dan bertanggung jawab. Dalam Islam, penggunaan akal budi sangat ditekankan, sebab dengan akal, seorang muslim dapat menggali kebenaran, memahami ajaran agama, serta mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan. Oleh karena itu, seorang muslim sejati harus senantiasa berusaha untuk mengasah dan mengembangkan akal budi yang dimilikinya, agar menjadi insan yang benar-benar berfikir dan mampu menggapai ridha Allah SWT.

Dalam proses berfikir, manusia akan menemukan berbagai kebenaran dan hikmah yang terkandung dalam setiap ciptaan Allah dan juga takdir yang dilalui yang benuh asam dan manis. Dengan berfikir, seorang muslim mampu menilai segala tindakan dan perkataannya, membedakan antara yang hak dan yang batil, serta menghindari perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Berfikir juga menjadi anjuran bagi seorang muslim sehingga dapat selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah.

Seorang insan yang berfikir akan senantiasa mencari ilmu dan pengetahuan untuk memperdalam pemahamannya tentang kehidupan dan ajaran agama. Islam sangat mendorong umatnya untuk menuntut ilmu, sebab ilmu merupakan kunci untuk membuka pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan ilmu, manusia akan mampu menjalani hidup yang lebih baik dan bermakna.

Seorang muslim yang bijaksana akan menggunakan kemampuan berfikirnya untuk mengambil keputusan yang tepat, baik untuk dirinya maupun orang lain. Dalam hal ini, berfikir akan membantu seorang muslim menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama manusia dan lingkungannya, serta menciptakan kehidupan yang penuh kedamaian dan kasih sayang.

Dalam berfikir, seorang muslim harus senantiasa menjaga kebersihan hati dan jiwa. Hati yang bersih dan jiwa yang tenang akan mempengaruhi kualitas pemikiran seseorang. Seorang insan yang berfikir dengan hati yang bersih akan mampu melihat kebenaran dengan lebih jelas, dan mengambil keputusan yang bijaksana dalam mengarungi kehidupan.

Berfikir juga berperan penting dalam menghadapi cobaan dan ujian dalam kehidupan. Dengan berfikir, kita akan mampu menghadapi berbagai ujian dengan tabah dan sabar, serta menemukan solusi terbaik dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Dengan demikian, seorang insan yang berfikir akan senantiasa merasa dekat dengan Allah SWT, berikhtiar dengan serius, menerima takdir yang ditetapkan-Nya dan senantiasa menggantungkan harapannya hanya kepada-Nya.

Seorang muslim yang berfikir akan mampu memahami makna dan tujuan dari setiap ibadah yang dikerjakan. Seorang insan yang berfikir tidak menjadikan ibadah sekedar rutinitas yang menjadi ruang untuk berintrospeksi dan memperbaiki diri. Dengan demikian, ibadah yang dilakukan akan menjadi lebih khusyuk dan bermakna, serta mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan bagi pelakunya. Berfikir juga membantu seorang muslim untuk selalu menjaga kualitas amal ibadahnya, sehingga ia akan terus berusaha untuk meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Seorang insan yang berfikir akan mampu menilai dan memahami dampak dari setiap tindakan yang diambil, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Dengan demikian, ia akan lebih bijaksana dalam bersikap dan bertindak, serta senantiasa menjaga agar tindakannya selaras dengan nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang diajarkan Islam.

Dalam proses dakwah, berfikir menjadi penting untuk menjaga ajaran Islam, serta untuk menangkal segala bentuk pemikiran yang menyimpang dan menyesatkan. Insan yang berfikir mengambil tanggung jawab penuh atas tingkah lakunya, tidak membiarkan taklid dan kejumudan menjadi alasan atas langkah yang diambilnya. Sehingga insan yang berfikir memenuhi syarat kewajiban untuk menjadikan perbuatannya dinilai ibadah, yakni berakal.

Untuk menjadi seorang muslim yang taat dan bertaqwa, seorang insan yang berfikir akan mampu menjalani kehidupan yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih bermakna, serta menjadi teladan bagi umat manusia. Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa berusaha untuk menjadi insan yang berfikir, guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Wallahu’alam

Artikel asli: https://darulfunun.id/learn/ibrah/20230411-ramadhan-20-insan-yang-berfikir

Related Articles

Back to top button