Kolom

Ramadhan (10): Letih Mencari Ilmu

Bismillahirrahmanirrahim

Ilmu merupakan anugerah Allah SWT yang tak ternilai harganya. Dalam perjalanan hidup, kita dihadapkan pada berbagai tantangan yang membutuhkan kebijaksanaan dan pengetahuan untuk mengatasinya. Para pencari ilmu, sepanjang sejarah, telah berkontribusi besar dalam pengembangan peradaban dan peningkatan kualitas hidup umat manusia.

Ketika membahas para pencari ilmu dalam Islam, kita seharusnya merasa bangga dan bersyukur. Sejak awal kemunculan agama ini, para pencari ilmu telah berperan penting dalam mempelajari ajaran Islam dan meneruskan warisan ilmu pengetahuan. Sebagai umat Muslim, kita harus menghargai betapa pentingnya peranan para pencari ilmu dalam kehidupan kita dan dalam keberlangsungan umat Islam.

Para pencari ilmu merupakan individu-individu yang gigih dalam mengejar dan memahami kebenaran. Mereka adalah orang-orang yang berupaya menegakkan keadilan, berbuat baik, dan menjauhi larangan Allah SWT. Di antara mereka adalah para ulama, sahabat Nabi, dan para tabi’in yang telah berjasa dalam menjaga dan mengembangkan ilmu pengetahuan di dunia Islam.

Kita patut mencontoh Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok yang sangat mencintai ilmu pengetahuan dan senantiasa mengajak para sahabatnya untuk menuntut ilmu. Bahkan, dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW mengatakan:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (Sunan Ibnu Majah 220)

Selain itu, para sahabat Nabi juga merupakan pencari ilmu yang tak kalah penting. Mereka merupakan tokoh-tokoh yang terus mempelajari dan mengajarkan ilmu pengetahuan Islam kepada generasi berikutnya. Seiring berjalannya waktu, para pencari ilmu di dunia Islam terus berkembang, mencakup berbagai disiplin ilmu seperti fiqh, tafsir, hadits, sejarah, hingga astronomi, dan matematika. Hal ini membuktikan bahwa Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan dan para pencari ilmu yang mengajarkan kepada umatnya.

Bagaimana Al-Quran bisa dicodex, dikatalogkan, dibukukan jika bukan karena kemampuan dan keuletan para sahabat dalam ilmu. Bagaimana Hadits bisa dilakukan tracing dan verifikasi akan kebenarannya jika tidak berkembang standarisasi untuk melakukan verifikasi terhadap hoax dan berita yang kurang tepat, bahkan proses keilmuan untuk melakukan verifikasi hadits shahih dari banyaknya kompilasi yang sudah dilakukan oleh para ahli hadits sebelumnya masih terus dilakukan hingga kini. Juga jangan lupa bagaimana keilmuan fikih dan ushul fikih berkembang menjadi salah satu pilar metode dalam menghasilkan ijtihad-ijtihad kontemporer, yang semua ini berkembang karena para pencari ilmu yang terus haus melakukan penyempurnaan ataupun perbaikan dari masa ke masa.

Dalam sejarah peradaban manusia dan nabi-nabi yang diutus ke dunia termasuk Islam, para nabi, para sahabat-sahabatnya, orang shalih terdahulu yang berilmu telah menjadi teladan dalam mengejar ilmu. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga mengembangkan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang, seperti matematika, astronomi, kedokteran, dan filsafat. Semua peradaban hebat yang kita saksikan saat ini tidak terlepas dari risalah para nabi dan ilmu-ilmu yang berkembang pada masanya.

Al-Quran dan Hadits menjadi sumber utama ilmu bagi umat Islam. Keduanya merupakan pedoman hidup yang menuntun kita dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat. Namun, mengejar ilmu tidaklah mudah. Terkadang, kita harus bersusah payah dan berkorban untuk memperolehnya. Seorang pencari ilmu terkadang menghabiskan waktu berhari-hari dalam lembaran-lembaran buku dan kitab, menghabiskan waktu dalam pustaka demi menyerap ilmu. Dalam perjalanan mengejar ilmu, para pencari ilmu sering mengalami kelelahan, kesulitan, dan hambatan.

Para pencari ilmu hendaknya selalu menjaga niat dan motivasi dalam menuntut ilmu. Niat yang tulus dan ikhlas untuk mencari ilmu demi kemaslahatan umat akan memberikan keberkahan dan kemudahan dalam perjuangan menuntut ilmu.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surah Al-Mujadilah ayat 11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Ayat ini menunjukkan betapa mulianya posisi para pencari ilmu di sisi Allah SWT.

Selain itu, para pencari ilmu juga harus selalu menjaga akhlak dan budi pekerti yang baik. Ilmu yang dimiliki hendaknya digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan umat, bukan untuk menunjukkan keunggulan, riya atau merugikan orang lain.

Dalam konteks masyarakat, para pencari ilmu memiliki peran yang sangat penting. Mereka menjadi panutan dan sumber inspirasi bagi generasi muda dalam menuntut ilmu pengetahuan. Para pencari ilmu juga menjadi jembatan antara ajaran agama dan kehidupan dunia, sehingga umat Islam dapat mengaplikasikan ilmu yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari.

Kita juga perlu menghargai perjuangan para pencari ilmu yang telah berkontribusi besar dalam mengembangkan peradaban Islam. Jangan lupa untuk selalu mendoakan para ulama, guru, dan orang-orang yang mengajarkan ilmu kepada kita.

Dalam mengejar ilmu, jangan pernah merasa puas dan berhenti. Sebagai umat Islam, kita harus selalu berusaha untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Karena ilmu itu luas, dan setiap pengetahuan yang kita peroleh akan membantu kita dalam memahami dunia dan kehidupan.

Berdoalah agar Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan, hidayah, dan kemudahan dalam perjuangan menuntut ilmu. Ingatlah bahwa Allah SWT adalah sumber segala ilmu, dan hanya dengan petunjuk-Nya kita dapat menemukan jalan yang benar dalam mengejar ilmu pengetahuan.

Akhir kata, semoga kita semua dapat menjadi para pencari ilmu yang gigih, beriman, dan bertaqwa. Semoga ilmu yang kita peroleh dapat menjadi shadaqah jariyah bermanfaat bagi diri kita, keluarga, masyarakat, dan umat Islam secara keseluruhan.

Wallahu’alam.

Artikel asli: https://darulfunun.id/learn/ibrah/20230401-ramadhan-10-letih-mencari-ilmu

Abdullah A Afifi

Khadim Darulfunun El-Abbasiyah | Analis Kebijakan dan Layanan Publik IDRIS Institute | Ikatan Alumni Insan Cendekia (IAIC) | Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR-UK) | Muhammadiyah Ciputat, Inggris Raya, Payakumbuh, Limapuluhkota | Fokus kepada Wakaf, Kebijakan Pendidikan, Pengembangan SDM dan Ekonomi Regional

Related Articles

Back to top button