Site icon Majalah Grak

Syekh Abbas Abdullah, Pejuang Kemerdekaan

Syekh Abbas Abdullah, Pejuang Kemerdekaan

Syekh Abbas Abdullah, Pejuang ...

Akibat gempuran Jepang, Belanda ingin membawa Sukarno yang tengah diasingkan di Bengkulu menuju Australia. Jalan satu-satunya yang memungkinkan adalah menaiki kapal di Teluk Bayur. Namun, beruntunglah Sukarno, sebab Padang telah dikuasai Jepang. Sedetik saja Belanda berhasil meloloskan Sukarno, anak Sukemi Sosrodihardjo dan Idayu Nyoman Rai Sarimben itu boleh jadi raib dari peta sejarah Indonesia.

Titik balik sejarah Sukarno bisa dikatakan bermula di Padang. Sejak diasingkan ke Ende dan Bengkulu selama hampir delapan tahun, pesonanya hanya dalam kesunyian. Beruntung pula bagi Sukarno ketika Jepang menukarkannya dengan Madjid Usman (1907-1955). Tokoh Minangkabau ini sedang diasingkan di Garut, Pulau Jawa. Bagi Jepang, pertukaran ini sangat penting, sebab Sukarno memiliki daya retorika yang akan dimanfaatkan sebagai propagandis kepentingan Jepang di Jawa (Salmyah Madjid&Hasril Chaniago, (Ed.)., 2017: 151-154).

Dalam catatan Audrey Kahin (2005: 137-141), Sukarno selama di Padang sejak Maret sampai Mei 1942 memainkan banyak peran. Namun, sejarawan Asia Tenggara dari Cornell University itu tak mengabadikan “jalan-jalan” Sukarno di tanah Minangkabau. Sukarno melakukan silaturahmi di Perguruan Darul Funun di Padang Japang.

Hasril Chaniago dalam Indonesian Lawyer Club (ILC) TV One (8/9/2020) menyebutkan bahwa Sukarno datang terlambat dua jam dari waktu yang disepakati. Syekh Abbas Abdullah (1883-1957) menghubungkan soal waktu dengan janji. Sukarno dinasihati kalau ingin menjadi pemimpin harus menepati janji. Abbas Abdullah seolah-olah juga mengetahui kalau Sukarno “rambang mato” setelah melihat gigi suami Inggit Ganarsih itu. Selain itu, ulama besar dan pimpinan Darul Funun itu memberikan “peci tinggi” kepada Sukarno agar terlihat gagah.

Muslim Syam dalam buku Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat (1981: 172) mengetengahkan riwayat Abbas Abdullah. Diterangkan bahwa Sukarno dalam perbincangan itu juga menyinggung soal landasan jika Indonesia merdeka dan menjadi sebuah negara. Abbas Abdullah menekankan dasar negara harus berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dalam pidatonya di hadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945, Sukarno menyebut ketuhanan pada poin terakhir atau dasar yang kelima. Menurut penulis, Abbas Abdullah kemungkinan marah besar terhadap Sukarno ketika komunis merasuki pemerintahan. Ternyata Sukarno tak menepati janji memegang teguh dasar ketuhanan.

Lahir pada 1883, Abbas Abdullah termasuk ulama disegani di Minangkabau yang menghembuskan udara pembaruan bersama Haji Abdul Karim Amrullah (1879-1945), Muhammad Djamil Djambek (1860-1947), Ibrahim Musa (1882-1963), dan ulama lainnya.

Dalam riwayatnya, ketika usia 13 tahun, ia pergi ke Mekah bersama pamannya dan tak mau pulang. Betah di Mekah selama tujuh tahun, ia mempelajari banyak hal termasuk berguru ke Syekh Ahmad Khatib (1860-1916).

Setahun sebelum pulang, Syekh Abdullah (1830-1903) yang mendirikan Surau Gadang pada 1854 meninggal dunia. Abbas Abdullah pun turut membantu mengajar di surau yang didirikan ayahnya itu. Perlahan tapi pasti, ia melakukan modernisasi terhadap sistem pendidikan.

Abbas Abdullah termasuk pimpinan dalam surat kabar al-Munir yang mulai terbit pada 1911. Ia pun bersatu padu mengibarkan bendera Sumatera Thawalib. Bahkan, pada 1920, Sumatera Thawalib Padang Japang menerbitkan surat kabar al-Imam. Setahun kemudian, Abbas Abdullah menuju lagi ke Mekah. Seusai haji, ia memperdalam ilmu ke Mesir dan ikut mendirikan Jam’iyyah Jawiyyah bersama Fathurrahman Kafrawi (Muslim Syam, 1981: 169; Burhanuddin Daya, 1990: 132). Fathurrahman Kafrawi (1901-1969) pernah menjabat Menteri Agama pada 1946 sampai 1947.

Buya Hamka (1967: 242) menceritakan, “Pada tahun 1921 beliau kembali ke Mekah, terus ke Mesir dan menambah pengalamannya belajar di al-Azhar sampai tahun 1924. Pada tahun itu dengan melalui Palestina, Libanon, dan Syria beliau pulang ke tanah air dan meneruskan usahanya mengajar.”

Diketahui pula bahwa Abbas Abdullah sempat ke Swiss dan bertemu Mahmud Yunus (1899-1982). Dalam catatan Muslim Syam (1981: 170), sebelum kembali ke Minangkabau, Abbas Abdullah singgah terlebih dahulu di Pulau Jawa untuk mengunjungi ulama-ulama dan pesantrennya. Ia berjumpa pula dengan Haji Agus Salim (1884-1954) dan beberapa pemimpin terkemuka.

Ringkas cerita, dalam perkembangannnya, Sumatera Thawalib terinfiltrasi politik praktis dan aliran. Sekitar 1930-an, sebagaimana Rahmah El-Yunusiyyah (1900-1969) yang menolak usulan Persatuan Muslim Indonesia (Permi) agar lembaga pendidikannya bernaung di bawahnya, Abbas Abdullah melakukan sikap serupa. Saat itulah Abbas Abdullah mengubah perguruannya dengan nama Darul Funun. Penamaan ini menarik, sebab cenderung beraroma Turki.

Menurut penulis, Abbas Abdullah termasuk tokoh yang dikuntit Belanda. Ketika Darul Funun digeledah Belanda sekitar 1934, bukan sekadar soal adanya “buku-buku radikal” dan prasangka politik praktis, tetapi juga menghentikan gerak Abbas Abdullah. Kita ingat aksi penolakan Ordonansi Guru (1928) dan Ordonansi Sekolah Liar (1932) di Minangkabau yang membuat Belanda mati kutu. Dalam berbagai keterangan, seusai penggeledahan, Darul Funun diblokir Belanda alias dilarang beroperasi.

Nasib Abbas Abdullah tak seperti Haji Rasul yang ditangkap dan diasingkan Belanda. Semasa pendudukan Jepang, Abbas Abdullah adalah salah satu ulama yang terpaksa berfatwa Perang Asia Timur Raya adalah perang sabil. Tentu, fatwa ini dengan niat menghancurkan Jepang di Minangkabau.

Ketika pembentukan Giyugun, Abbas Abdullah menyuruh murid-muridnya turut berlatih dalam badan pertahanan bentukan Jepang itu. Bahkan, anaknya Azhari Abbas termasuk angkatan pertama. Kelak, barisan Giyugun ini berperan besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Bukan main jika sejarah menarasikan peristiwa ini. Sebagaimana kita ketahui, Abbas Abdullah terlibat dalam Majelis Islam Tinggi (MIT) yang berpusat di Bukittinggi. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan, MIT membentuk barisan Sabilillah. Ada empat resimen Sabilillah berkedudukan di Padang Panjang, Solok, Pesisir Selatan, dan Payakumbuh. Abbas Abdullah ditunjuk sebagai imam jihad. Fatwa yang dikeluarkan, berjuang mengusir musuh adalah fardhu ‘ain, bukan fardhu kifayah. Siapa yang mati, syahid dunia akhirat (Hendra Sugiantoro, 2021: 131-132).

Resimen adalah pasukan yang terdiri dari beberapa batalion, sedangkan batalion bisa terdiri dari 300 sampai 1.000 pasukan. Itu di bawah komando Abbas Abdullah yang saat itu sudah berusia 62 tahun!

Kiprah Abbas Abdullah dalam perjuangan kemerdekaan tak dimungkiri. Bahkan, ketika masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), perguruannya sempat sebagai markas Mr. Teuku Mohammad Hasan. Dalam struktur kabinet PDRI yang diumumkan Mr. Syafruddin Prawiranegara (1911-1989) per 22 Desember 1948, posisi Teuku Mohammad Hasan selaku Wakil Ketua merangkap Menteri Dalam Negeri, Pendidikan&Kebudayaan, dan Agama.

Seusai kesepakatan Roem-Royen 1949, Syafruddin Prawiranegara yang beretika kekuasaan mengembalikan mandat kepada Sukarno. Di Perguruan Darul Funun, Mohammad Natsir dan Johannes Leimena menjemput pimpinan PDRI untuk pulang ke Yogyakarta.

Abbas Abdullah meninggal dunia pada 17 Juni 1957. Sekitar delapan tahun kemudian, kekuasaan Sukarno runtuh, salah satunya akibat tak menepati janji mendasari negara dengan ketuhanan sebagaimana diamanatkan Abbas Abdullah. Wallahu a’lam. (Hendra Sugiantoro, 23-24 Agustus 2021).

Sumber Acuan:

Diterbitkan pertama kali di: https://matapadi.co/syekh-abbas-abdullah-pejuang-kemerdekaan (25 Agustus 2021)

Artikel asli: https://darulfunun.id/insight/islamic-studies-civilization/20210826-syekh-abbas-abdullah-pejuang-kemerdekaan

Exit mobile version