Dunia Pendidikan

Siswa Madrasah Dapat Menikmati Akses E-Learning

25 May 2020



Pembelajaran jarak jauh, atau e-learning kini menjadi kebutuhan pokok bagi pendidikan nasional. Sejumlah kalangan berupaya agar fasilitas modern tersebut dapat memberikan peran lebih besar  dalam menunjang keberhasilan proses belajar mengajar di Tanah Air.

Salah satunya seperti yang dilakukan kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktorat Kurikulum, Sarana Prasarana, Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah yang menjalin kerjasama dengan Google. Dengan kerjasama tersebut 7 juta siswa madrasah dapat menikmati akses e-learning gratis.

Naskah kerjasama tersebut ditandatangani oleh Ahmad Umar sebagai Direktur KSKK Madrasah dan Arya Sanjaya sebagai President Director PT. Duta Digital Informatika, representasi Google di Indonesia untuk platform Google Cloud dan Google For Education. Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan di kantor Kemenag pada Jumat (21/5).

Umar menyampaikan, kesepakatan ini akan memberikan akses e-learning gratis kepada 82 ribu madrasah di Indonesia, yang mencakup sekitar 7 juta siswa di dalamnya. Google menyediakan platform daring untuk media pembelajarannya, tapi tidak meliputi materi atau konten mata pelajaran.

“Manfaat yang dapat dicapai  siswa madrasah dengan kerjasama ini setidaknya delapan aplikasi berbayar yang diberikan gratis dalam jangka waktu tidak terbatas,” kata Umar melalui pesan tertulis akhir pekan lalu.

Aplikasi tersebut di antaranya Google Classroom dan Google Meet dengan kemampuan interaksi 250 orang tanpa batasan waktu. Ada juga sejumlah aplikasi tulis menulis praktis seperti Google Docs, presentasi (slide) dan tabulasi (sheet) dengan kemampuan kolaborasi.

Google juga akan memberikan akun gmail kelas korporat yang bebas iklan dan spam dengan kapasitas tidak terbatas, penyimpanan (drive) di cloud dengan kapasitas tidak terbatas, kalender untuk melakukan penjadwalan pribadi dan kelompok. Selain itu ada konsol admin untuk administrasi pengguna dan perangkat dalam domain yang ditentukan, serta pengaturan keamanan dan juga vault (lemari penyimpanan) yang dapat menyimpan tanpa batas waktu dan menarik kembali arsip jika diperlukan.

Arya mengatakan, kerjasama ini merupakan bentuk komitmen Google untuk terlibat aktif membangun pendidikan di negara-negara daerah operasionalnya termasuk Indonesia. Kerjasama ini akan menjadi program yang berkelanjutan. Karena yang diberikan adalah akses gratis setara dengan kelas bisnis tanpa batas waktu, bukan merupakan trial version. “Saya berharap ini akan dapat berjalan terus, ini bentuk komitmen kami terhadap pendidikan dan bukan program CSR yang sifatnya temporal,” kata Arya.

Nota kesepakatan ini merupakan kerjasama nasional pertama antara Google dengan pemerintah dalam hal ini Kemenag. Sebelumnya kerjasama serupa sudah dilakukan Google dengan beberapa sekolah terpilih, namun sifatnya parsial kelembagaan.

Dengan fasilitas dari Google ini, siswa madrasah akan mendapat domain yang dipool melalui kemenag.go.id. Jika dikapitalisasi, fasilitas dari Google ini setara dengan nilai yang cukup tinggi. Platform ini biasanya diterapkan secara berbayar dengan tarif per akun setiap bulannya sebesar 12 dolar AS. Untuk madrasah, pihak Google akan menyediakan 7 juta akun, yang berarti setara dengan 84 juta dolar AS per bulan.

Direktur Direktorat KSKK Madrasah pada Kemenag mengaku senang dengan kesepakatan ini. Sejak lama pihaknya memperjuangkan revolusi pembelajaran di madrasah agar mencapai lompatan kualitas.

Faktanya saat ini antara madrasah di kota dan di daerah masih terdapat gap kualitas. Dengan pembelajaran daring yang difasilitasi Google, ia berharap madrasah di seluruh pelosok dapat dipacu akselerasinya. Problem kualitas guru, jam masuk yang tidak disiplin, dan persoalan lainnya secara teknis dapat teratasi dengan cara ini. “Kerjasama ini sudah kami rintis sejak Agustus 2018 lalu. Jadi ini bukan program tiba-tiba karena agenda belajar di rumah terkait Covid-19,” ujar Umar.

Sebelumnya, Kemenag telah melakukan pembicaraan dengan operator telepon selular agar daerah-daerah yang masih blank spot dibangun menara BTS. Supaya akses internet dapat dijangkau madrasah di daerah itu.

Menurut Umar, platform yang diberikan Google memungkinkan siswa dapat belajar di ruang-ruang kelas online. Dengan sistem ini siswa dapat mengikuti kelas manapun yang dipilih, tidak harus di sekolahnya. Dengan kelas daring ini keterbatasan sumberdaya dan guru dapat teratasi.

Sekolah juga dapat bertukar guru dengan mudah hanya dengan melakukan switch. Misalnya ada sekolah yang kuat di bidang tertentu, lemah di bidang yang lainnya. Maka dapat bertukan sumberdaya untuk saling memperkuat.

“Sistem ini juga akan diintegrasikan dengan aplikasi e-learning madrasah milik Kementerian Agama. Aplikasi yang sebelumnya sudah ada ini akan semakin kuat karena didukung mesin Google yang mampu diakses jutaan siswa dalam satu waktu,” kata Umar.