Dunia Pendidikan

Pendidikan Islam Dalam Tantangan Era Industri 4.0

08 September 2018



Perkembangan era industri 4.0 menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan saat ini, termasuk Pendidikan Islam. Para guru mau tidak mau mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Hal ini diingatkan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Nur Syam saat menjadi narasumber pada Workshop Penyusunan Panduan Program GTK Madrasah di Hotel Swissbell in Sidoarjo, Jum’at (07/09).

Menurut Nur Syam, kompleksitas tantangan dimulai ketika era revolusi industri 4.0, yang serba otomatis digital, berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence) seperti robot. “Hal itu akan memangkas tenaga-tenaga manusia dan menggantinya dengan mesin berperangkat teknologi sangat canggih,” ucap Nur Syam.

Mengutip pebisnis berkebangsaan Tionghoa Jack Ma, Nur Syam mengatakan, pada tahun 2030 nanti, akan ada 800 juta jenis pekerjaan manusia yang diambil alih oleh robot. “Dan ini merupakan tantangan terbesar kita,” tegasnya.

Sejalan dengan itu, kompetensi guru tidak cukup bila hanya menerapkan proses belajar atau mengajar seperti 200 tahun lalu, di mana guru hanya hadir absen, masuk kelas, tanya jawab, lalu diskusi. Guru ke depan dituntut meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya menyesuaikan perkembangan teknologi yang canggih.

“Dulu guru itu sumber belajar, bahkan sumber mencari pengetahuan. Namun, di era industri digital 4.0, murid dapat mencari ilmu pengetahuannya melalui berbagai sumber digital yang besebaran. Guru hanya sebagai faslitator yang kreatif bagaimana membangun kelas atau ruang pendidikan dapat hidup dan berkembang, serta mampu melayanani kebutuhan mereka akan informasi,” ucap Nur Syam.

Selain itu, menurut Nur Syam, kehadiran artificial intelligence (AI) juga tidak untuk dilawan, tapi mencari hal unik yang tidak ada dalam kemampuan kecerdasan buatan tersebut. Salah satunya tentang pemahaman nilai-nilai relegius yang tidak ada pada AI.

“Itu yang harus kita  bangun dan tanam kepada anak murid mengenai pendikan karakter sehingga menjadi religious values,” pesan Nur Syam.

Kedua, madrasah harus mengajarkan nilai-nilai dalam membangun tim working, menghindari individualisasi. “Madrasah harus mengajarkan dan menghasilkan anak-anak yang kuat dalam tim working dan pendidikan harus berbasis tim work melatih kita siap bekerja sama kedepannya,” jelas Nur Syam.

Ketiga, lanjut Nur Syam,  nilai care to the other atau yang dikenal dengan peduli terhadap yang lain. Pendidikan harus menyadarkan siswa akan kepedulian dengan yang lain, sehingga terbentuknya aspek social intelligence yaitu kecerdasan sosial sebagai kemampuan untuk secara efektif menavigasi dalam interaksi dan lingkungan sosial.

“Jadi pendidikan tersebut menghasilkan kesadaran bahwa ada orang lain di sekitarnya dan saling membutuhkan,” ujarnya.

“Peran guru dan dosen sangat penting di dalam kehidupan ini. Maka, keberhasilan pendidikan itu sangat tergantung persiapan guru dalam mendidik anak-anaknya, tidak hanya transfer knowlage, melainkan membangun kekuatan pendidikan berkarakter,” tutup Nur Syam.

Sumber: https://kemenag.go.id/berita/read/508674/nur-syam-ingatkan-pendidikan-islam-tantangan-era-industri-4-0