Berita

Amping, Mesin Pembuat Emping Karya Mahasiswa UNY

02 December 2018



Proses konvensional pembuatan melinjo untuk menjadi emping memerlukan kesabaran dan tenaga optimal. Terlebih, saat ini belum tersedia alat yang dapat meringankan proses pembuatan camilan tersebut.

Untuk membuatnya, biji melinjo yang sudah terpisah dengan kulitnya disangrai dengan menggunakan pasir. Kemudian, dipisahkan antara biji dan kulitnya, dan setelah biji berwarna putih pucat didapat, biji bisa dipipihkan.

Biji yang sudah menjadi emping kemudian dijemur. Proses pemipihan biji menjadi tahapan yang sulit ketika tubuh harus berada dalam posisi tetap, dengan membawa palu dan dipukulkan ke biji melinjo dalam waktu yang cukup lama.

Proses pembuatan emping melinjo yang rumit ini jadi perhatian empat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Mengembangkan kreativitas, akhirnya sekelompok mahasiswa itu menciptakan mesin pembuatan melinjo.

Ada Khusniyati dan Ilham Arifin Prambudi dari Prodi Pendidikan Teknik Informatika, Mohammad Giffari Anta Pradana dari Prodi Teknik Elektronika, dan Lukman Fatoni dari Prodi Teknik Mesin.

Mesin pembuat emping otomatis itu bernama Amping, yang merupakan singkatan dari Automatic Flash Machine Maker of Emping. Menurut Khusniyati, proses pembuatan emping yang membutuhkan waktu lama masih menjadi momok.

Bahkan, kondisi itu tidak jarang membuat para pengrajin emping harus berpindah profesi. Khusniyati merasa, situasi ini yang menjadi kendala untuk memproduksi emping secara banyak dalam waktu yang singkat.

“Menurunnya produktivitas pekerja melinjo diakibatkan karena kelelahan terhadap waktu, proses pembuatan yang cukup panjang dan diperlukan tenaga yang stabil dalam pembuatan menjadi emping,” kata Khusniyati.

Ilham Arifin Prambudi menjelaskan, inovasi yang mereka gagas merupakan mesin yang dapat bekerja secara optimal pada saat pemipihan biji melinjo. Tujuannya, untuk meningkatkan hasil dari produksi UKM penghasil emping.

Gagasan itu dituangkan dengan menggandeng UKM Rizki Ilahi di Desa Rejosari, Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, sebagai pembuat emping. Menurut Ilham, selama ini mereka cukup kewalahan memenuhi permintaan pasar.

“Dengan hanya mengandalkan tenaga manusia, untuk itu perlu terobosan inovatif dalam memproduksi emping,” ujar Ilham.

Lukman Fatoni menjelaskan, rancangan Amping meliputi motor diesel, mesin rolling, dan sangrai. Mesin akan digerakkan oleh motor diesel yang mengubah energi elektromagnetik menjadi energi mekanik.

Dalam mesin rolling dan sangrai, biji melinjo akan diproses melalui sistem sangrai dengan cara pengadukan dalam mesin secara otomatis. Proses itu untuk menghilangkan kadar air.

Biji melinjo juga akan melalui tahapan sistem rolling yang dikendalikan motor listrik untuk memipihkan biji. Selanjutnya, emping akan ditampung ke wadah yang berada di samping mesin rolling.

“Amping miliki corong untuk memasukkan biji melinjo yang terpisah dengan kulit ari memasuki tahapan rolling, penyangrai untuk mengurangi kadar air dalam biji untuk mematangkan biji melinjo dengan sumber panas dari tungku,” kata Lukman.

Rolling digunakan menekan biji melinjo dari dua sisi untuk memipihkan biji dan ditampung dalam wadah emping setelah melalui tahap rolling. Mohammad Giffari Anta Pradana mengaku sangat bangga, karya ini berhasil mendapat apresiasi.

“Meraih dana Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang penerapan teknologi, dan berharap bisa mendapat sertifikat HAKI,” ujar Giffari.

Pemilik UKM Rizki Illahi, Eni Mifroah, mengaku merasa gembira dengan adanya mesin pembuat emping otomatis tersebut. Eni berpendapat, Amping hadir sebagai alat yang membantu mitra-mitra.

“Agar dapat memproduksi emping melinjo dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang singkat supaya kebutuhan pasar dapat terpenuhi,” kata Eni, menutup.